PERPUSTAKAAN SEBAGAI AGEN PERUBAHAN SOSIAL: SUATU TANTANGAN TERWUJUDNYA PERPUSTAKAAN PROKLAMATOR BUNG HATTA MENUJU UPT PERPUSTAKAAN NASIONAL

Posted on Wednesday, October 7th, 2009 at 3:28 pm

PPBH

Atas dasar keinginan Pemerintahan Kota Bukittinggi dan pemuka masyarakat untuk membangun sebuah perpustakaan yang representatif dan ditujukan untuk pelajar, mahasiswa, serta masyarakat kota Bukittinggi, maka pada tanggal 12 Agustus 1976 didirikanlah Perpustakaan Umum Muhammad Hatta. Perpustakaan ini mendapat dukungan dari Muhammad Hatta (Bung Hatta) yang merupakan putra Minangkabau yang menjadi Pahlawan Proklamator Republik Indonesia. Beliau juga yang meresmikan berdirinya perpustakaan ini. Waktu itu gedung Perpustakaan Umum Muhammad Hatta terletak di Jln. A. Riva’I (di sebelah Rumah Sakit Umum Daerah DR. Achmad Mochtar Kota Bukittinggi). Dalam perjalanannya, perpustakaan ini pun mengalami pergantian nama beberapa kali. Setelah bernama Perpustakaan Muhammad Hatta, kemudian namanya berkembang menjadi Perpustakaan Proklamator Muhammad Hatta. Tujuan didirikannya Perpustakaan ini adalah untuk memenuhi kebutuhan masyarakat sekitar kota Bukittinggi yang haus akan informasi.selain itu, tujuannya adalah untuk mengenang dan mengabadikan jasa Bapak Proklamator Republik Indonesia Muhammad Hatta.

Sejak berdirinya, perpustakaan ini memberikan pelayanan secara cuma-cuma kepada masyarakat yang menggunakan perpustakaan ini. Peningkatan kualitas pelayanan terhadap pengguna pun terus ditingkatkan setiap tahunnya. Apalagi penggunanya kemudian berkembang tidak hanya dari kota Bukittinggi saja, tetapi juga masyarakat di kabupaten dan kota di Sumatera Barat. Karena semakin hari pengguna yang memanfaatkan perpustakaan sempit berlantai dua ini semakin banyak, maka Pemerintah Kota Bukittinggi berencana untuk membangun gedung  perpustakaan yang lebih luas dari pada perpustakaan sebelumnya.

PPBH tampak belakangDi tahun 2000-an, pemerintah berencana untuk membangun perpustakaan kembar. Perpustakaan-perpustakaan tersebut rencananya akan dibangun di tempat kelahiran masing-masing dua orang Pahlawan Proklamator Republik Indonesia. Akhirnya salah satu rencana tersebut pun berhasil diwujudkan di tahun 2003, yaitu selesainya pembangunan Perpustakaan Soekarno di Blitar. Kemudian dibangunlah Perpustakaan Proklamator Muhammad Hatta di lokasi yang lebih luas dari perpustakaan yang sudah ada dan jauh dari kebisingan yaitu di Bukit Gulai Bancah, berdampingan dengan Kantor Walikota Bukittinggi yang baru. Kemudian perpustakaan ini sampai sekarang berganti nama menjadi Perpustakaan Proklamator Bung Hatta.  Perpustakaan ini diresmikan oleh Presiden Republik Indonesia Susilo Bambang Yudhoyono pada tanggal 21 September 2006.

PPBH tampak depanPerpustakaan yang terletak di atas bukit ini dikelilingi oleh pemandangan alam yang indah, dengan udara yang masih segar dan alami, serta tumbuh-tumbuhan dan burung serta serangga yang beterbangan memberikan kenyamanan kepada kita dalam mengunjungi perpustakaan. Kita akan menikmati mengunjungi perpustakaan ini. Apalagi ditambah dengan pelayanan yang baik dari staf perpustakaan.

Gedung perpustakaan yang baru ini terdiri dari tiga lantai. Berikut pembagian ruangan di Perpustakaan Proklamator Bung Hatta.

Jenis Ruangan
Lantai Dasar –          ruang bahan pustaka terbuka-          ruang bahan pustaka referensi

–          ruang baca terbuka

–          ruang baca non book

–          ruang kerja (ruangan kepala, ruangan kasi, ruangan staf, ruangan prosessing, dan ruangan penjilidan)

–          ruang seminar

–          mini theater

Lantai 1 –          ruang bahan pustaka terbuka-          ruang internet

–          ruang baca terbuka

–          ruang baca group

–          ruang baca anak

–          sirkulasi

Lantai 2 Ruang auditorium

PPBH tampak sampingPerpustakaan Proklamator Bung Hatta sejak tahun 2006 sampai sekarang sedang berproses menjadi perpustakaan UPT Perpustakaan Nasional. Oleh karena itu, perpustakaan ini pun mulai membenahi setiap bagian yang ada agar menjadi lebih baik dan layak untuk disebut sebagai bagian dari Perpustakaan Nasional. diawal kepindahan ke gedung yang baru, perpustakaan ini hanya memiliki bahan pustaka sekitar ribuan judul. Tetapi sekarang bahan pustaka yang dimiliki sudah lebih dari 92.000 eksemplar. Selain peningkatan bahan pustaka, pelayanan dan sumberdaya manusia juga ikut diperhatikan. Terbukti dengan dikirimnya dua orang pegawai untuk kuliah program sarjana dan program pascasarjana di salah satu universitas negeri di Bandung.

Perpustakaan yang sebelumnya tidak pernah terjamah teknologi informasi ini, sudah mulai menerapkan otomasi perpustakaan. Software yang digunakan adalah software INDOMARC yang bernama QALIS (Quadran Automated Library Information System). Software ini adalah buatan Indonesia. Rencananya Perpustakaan Nasional akan membuat jaringan kerjasama antar perpustakaan secara nasional dan sekarang proyek tersebut sedang berlangsung di semua perpustakaan nasional dan daerah di Indonesia. Jadi semua perpustakaan nasional dan perpustakaan daerah di Indonesia menggunakan software ini. Diharapkan kedepannya semua perpustakaan di Indonesia dapat melakukan kerjasama antar perpustakaan dengan lebih baik, lebih efektif, dan lebih efisien lagi. Contoh layanan yang ditawarkan dari jaringan kerjasama antar perpustakaan adalah pengguna perpustakaan di Kota Makassar bisa meminjam bahan pustaka yang terdapat di Perpustakaan Proklamator Bung Hatta. Caranya dengan memanfaatkan software QALIS ini, pengguna bisa mengetahui dimana bahan pustaka yang mereka butuhkan dan mereka bisa meminjamnya hanya dengan datang ke perpustakaan yang ada di kota mereka. Untuk itu perpustakaan juga akan melayani delivery bahan pustaka antar perpustakaan.

server QALIS

Layanan yang disediakan oleh Perpustakaan Proklamator Bung Hatta antara lain:

  1. layanan umum/ sirkulasi,
  2. layanan referensi,
  3. layanan kanak-kanak,
  4. layanan serial,
  5. warung internet, dan
  6. foto kopi.

Layanan yang segera akan diluncurkan adalah layanan OPAC (Online Public Access Catalogue) dengan menggunakan software QALIS dan layanan library user education (pendidikan pengguna).

Perpustakaan Proklamator Bung Hatta juga mempunyai perpustakaan keliling. Perpustakaan Keliling berfungsi sebagai perpustakaan umum yang melayani kebutuhan informasi masyarakat yang tidak terjangkau oleh pelayanan perpustakaan. Pada hakikatnya fungsi perpustakaan keliling sama dengan perpustakaan umum. Perpustakaan keliling merupakan kepanjangan layanan Pepustakaan Proklamator Bung Hatta.

Peranan perpustakaan ini menjadikan masyarakat Kota Bukittinggi bebas dari kebodohan, buta huruf, dan gemar membaca. Dengan senangnya masyarakat membaca, berarti Perpustakaan Proklamator Bung Hatta ikut berpartisipasi dalam pembebasan masyarakat dari kemiskinan, karena kebodohan merupakan awal dari kemiskinan. Peranan ini menjadikan Perpustakaan Proklamator Bung Hatta diharapkan dapat menjadi agen perubahan sosial bagi masyarakat Kota Bukittinggi dan Sumatera Barat secara umum.

“Perpustakaan sebagai agen perubahan sosial” adalah motto yang dimiliki oleh Perpustakaan Proklamator Bung Hatta. Perubahan sosial mencakup unsur-unsur kebudayaan yang berubah yang menyangkut kebudayaan material (benda hasil pemikiran manusi) dan hasil kebudayaan immaterial (pendidikan, kesenian, dan agama). Unsur material akan mempengaruhi kebudayaan immaterial, artinya jika terjadi pembuatan mesin akan mempengaruhi kebudayaan immaterial. Contohnya dengan ditemukannya komputer, system informasi lebih modern dan efektif.

Sebagai agen perubahan sosial, Perpustakaan Proklamator Bung Hatta harus mampu mewujudkan masyarakat yang kaya akan informasi. Untuk itu perpustakaan harus bisa memberikan informasi yang dibutuhkan oleh masyarakat. Selain itu dengan adanya perpustakaan, masyarakat jadi mengetahui informasi yang terbaru (up to date). Dan mungkin juga dengan adanya perpustakaan dapat meningkatkan minat baca di kalangan masyarakat yang diketahui saat ini minat baca tersebut sangat menurun di Kota Bukittinggi dan sekitarnya.

Untuk memenuhi tercapainya hal di atas, maka perpustakaan perlu melakukan konsep knowledge enabler (konsep pemberdayaan pengetahuan) terhadap perpustakaan. Pada dasarnya manfaat dari konsep manajemen  pengetahuan adalah untuk meningkatkan kinerja perpustakaan. Manajemen pengetahuan dapat dijadikan sebagai pemicu agar pustakawan lebih inovatif dan kreatif dalam menyiasati cakupan muatan teknologi informasi yang telah dikembangkannya selama ini sehingga Perpustakaan Proklamator Bung Hatta dipandang sebagai penyedia informasi dan pengetahuan yang utama.

Hal lain yang mempengaruhi perpustakaan sebagai agen perubahan sosial adalah pustakawan. Dalam lingkungan organisasi perpustakaan manajemen pustakawan dinilai sebagai komunikasi ilmiah dan proses penyampaian informasi harus diberi nilai tambah dengan mengorganisasikan pengetahuan yang diciptakan dan dikemas diluar perpustakaan. Perpustakaan harus dijadikan penerbit pengetahuan bagi masyarakat pengguna. Solusi yang harus dipenuhi oleh pustakawan dalam memberdayakan pengetahuan antara lain:

  1. pustakawan harus dapat meningkatkan kemampuan dalam teknologi informasi yang memadai
  2. mengembangkan komunikasi ilmiah bagi sesama pustakawan
  3. menumbuhkan jiwa kewirausahaan dan core bisnis
  4. pustakawan diharapkan mampu meningkatkan kompetensi manajerial dan kepemimpinan berbasis informasi.

Oleh karena itu, pengetahuan pustakawan pun terus ditingkatkan. Selain memberikan beasiswa sarjana dan pascasarjana kepada pegawai, perpustakaan juga mengirim pegawainya untuk mengikuti diklat-diklat perpustakaan, seminar-seminar perpustakaan, serta workshop-workshop perpustakaan.

Bahan bacaan dan sumber referensi:

Basuki, Sulistyo. 1993. Pengantar Ilmu Perpustakaan, Jakarta : Gramedia Pustaka Utama.

Cutlip, Scoott M., et all. 2006. Effective Public Relations, Ed. 9, Jakarta: Kencana.

Diktat/ Bahan Ajar Mata Kuliah Public Relations in Library, Jurusan Ilmu Informasi dan Perpustakaan, Fakultas Ilmu Komunikasi, Universitas Padjadjaran Bandung.

Diktat/ Bahan Ajar Mata Kuliah  Perpustakaan dan Perubahan Sosial, Jurusan Ilmu Informasi dan Perpustakaan, Fakultas Ilmu Komunikasi, Universitas Padjadjaran Bandung.

Hasil wawancara dengan Kepala dan Staf Perpustakaan Proklamator Bung Hatta, Bukittinggi.

Hasil observasi (pengamatan secara langsung) di Perpustakaan Proklamator Bung Hatta, Bukittinggi.

You can skip to the end and leave a response. Pinging is currently not allowed.

2 Responses to “PERPUSTAKAAN SEBAGAI AGEN PERUBAHAN SOSIAL: SUATU TANTANGAN TERWUJUDNYA PERPUSTAKAAN PROKLAMATOR BUNG HATTA MENUJU UPT PERPUSTAKAAN NASIONAL”

  1. onde mandeeeeeeeeeeeeeeeeeeeee…..
    baru tabaco dek denai
    keren mah Resty …
    tapi, rasanya masyarakat Minangkabau sendiri banyak tidak tahunya daripada tahunya mengenai keberadaan perpust ini … :
    1. harus dipromosikan, biar maskot Bukittinggi tidak hanya jam, benteng, atau kebun binatang, tapi juga perpustakaan indah dengan ribuan koleksi buku …
    2. apakah di sana sudah ada pustakawan yang sesuai kompetensi?
    3. segera ingin ke sana …

  2. restyjf says:

    batua bana… tapi sarana n prasarananyo masih sangat kurang.. pengotomasian masih tersendat krna dk do yg kompeten, tp manproyekan payah lo karano dak do dana dr pemerintah… btw CPNS PNRI yg thn ko lah mulai mambukak utk PPBH ato alun mir??

Leave a Reply