INFORMATION BEHAVIOR

Posted on Monday, May 11th, 2009 at 9:49 am

Fungsi perpustakaan sebagai penyimpanan, penelitian, informasi, pendidikan dan cultural, selalu berkaitan dengan informasi yang disediakan perpustakaan untuk para pemakainya (sekarang ini disebut sebagai pemustaka). Hal ini menuntut perpustakaan untuk selalu memberikan informasi kepada pemustaka. Dengan demikian, koleksi yang dimiliki oleh perpustakaan seharusnya dapat menjawab kebutuhan informasi para pemustaka. Pemustaka merupakan setiap orang yang menggunakan sumberdaya dan pelayanan perpustakaan, meskipun tidak selalu terdaftar sebagai peminjam. Siklus kegiatan perpustakaan akan selalu menempatkan pemustaka dalam posisi yang sangat penting.

Mencari dan menggunakan informasi sudah menjadi kebutuhan yang sangat penting bagi masyarakat informasi, dimana mereka sangat bergantung dengan informasi yang dihasilkan oleh para pekerja informasi. Begitu juga dengan perpustakaan yang bekerja untuk memberikan informaasi kepada para pemustaka. Hal tersebut menjadikan perpustakaan berperan besar dalam pemenuhan kebutuhan informasi pemustaka. Tetapi karakter setiap pemustaka yang berbeda-beda, menyebabkan informasi yang di cari juga berbeda-beda. Wilson menyebutkan bahwa aspek sosial budaya, ekonomi politik serta peran sosial manusia sebagai aspek yang mempengaruhi perilaku penemuan informasi. Wilson adalah ilmuwan yang sangat aktif menulis tentang perilaku informasi. Karya-karyanya banyak dikutip oleh para peneliti bidang informasi sejak ia mengeluarkan serangkaian model pada tahun 1981. Wilson juga dapat dianggap sebagai orang yang memperjelas perbedaan antara berbagai istilah yang digunakan dalam penelitian perilaku informasi. Perbedaan aspek tersebut menghasilkan pola pikir yang mempengaruhi perilaku informasi individu. Dari sini diketahui bahwa banyak hal yang dapat mempengaruhi perbedaan perilaku informasi antara satu individu dengan individu lain, atau pun satu kelompok dengan kelompok lainnya. Hal ini akan berimbas pada munculnya keragaman perilaku informasi dalam perpustakaan, yang menuntut pustakawan untuk menerapkan strategi yang berbeda pula dalam menghadapi pemustaka.

Perilaku informasi merupakan hal yang penting dalam penerapan dan pembangunan sistem informasi. Wilson memperjelas perbedaan antara berbagai istilah yang digunakan dalam penelitian perilaku informasi. Dia menyajikan beberapa definisi tentang perilaku informasi, yaitu information behavior, information seeking behavior, Information Searching Behavior,dan Information Use Behavior.

Information Behavior is the totality of human behaviorin relation to sources and channels of information,including both active and passive information seeking, and information use. Thus, it includes face to face communication with others, as well as the passive reception of information as in, for example,watching TV advertisements, without any intention to act on the information given.

Information Seeking Behavior is the purposive seeking for information as a consequence of a need to satisfy some goal. In the course of seeking, the individual may interact with manual information systems (such as a newspaper or a library), or with computer-based systems (such as the World Wide Web).

Information Searching Behavior is the ‘micro-level’ of behavior employed by the searcher in interacting with information systems of all kinds. It consists of all the interactions with the system, whether at the level of human computer interaction (for example, use of the mouse and clicks on links) or at the intellectual level (for example, adopting a Boolean search strategy or determining the criteria for deciding which of two books selected from adjacent places on a library shelf is most useful), which will also involve mental acts, such as judging the relevance of data or information retrieved.

Information Use Behavior consists of the physical and mental acts involved in incorporating the information found into the person’s existing knowledge base. It may involve, therefore, physical acts such as marking sections in a text to note their importance or significance, as well as mental acts that involve, for example, comparison of new information with existing knowledge. (Wilson, 2000 vol. 3:1-2)

Information behavior (perilaku informasi) merupakan keseluruhan perilaku manusia berkaitan dengan sumber dan saluran informasi, termasuk perilaku pencarian dan penggunaan informasi baik secara aktif maupun secara pasif. Menonton televisi dapat dianggap sebagai perilaku informasi, demikian pula dengan komunikasi face to face.

Perilaku penemuan informasi (information seeking behavior) merupakan upaya menemukan informasi dengan tujuan tertentu sebagai akibat dari adanya kebutuhan untuk memenuhi tujuan tertentu. Dalam upaya ini, seseorang bisa saja berinteraksi dengan sistem informasi manual (koran, sebuah perpustakaan) atau sistem informasi yang berbasis komputer.

Perilaku pencarian informasi (information searching behavior) merupakan perilaku di tingkat mikro, berupa perilaku mencari yang ditunjukkan seseorang ketika berinteraksi dengan sistem informasi. Perilaku ini terdiri dari berbagai bentuk interaksi dengan sistem, baik di tingkat interaksi dengan komputer (misalnya penggunaan mouse atau tindakan meng-klik sebuah link), maupun di tingkat intelektual dan mental (misalnya penggunaan strategi Boolean (bentuk information retrieval system/sistem temu kembali informasi) atau keputusan memilih buku yang paling relevan di antara sederetan buku di rak perpustakaan) .

Dalam bahasa Inggris seeking dibedakan dari searching. Di Indonesia selama ini keduanya diterjemahkan sebagai mencari, lawan-kata dari menelusur secara serampangan, atau merawak (browsing). Menurut penulis, sesuai uraian Wilson di atas, seeking bersifat lebih umum walaupun tidak seserampangan browsing, sedangkan searching bersifat lebih khusus dan terarah. Sebab itu, information seeking adalah upaya menemukan informasi secara umum, dan information searching adalah aktivitas khusus mencari informasi tertentu yang sedikit-banyaknya sudah lebih terencana dan terarah.

Perilaku penggunaan informasi (information user behavior) terdiri dari tindakan-tindakan fisik maupun mental yang dilakukan seseorang ketika seseorang menggabungkan informasi yang ditemukannya dengan pengetahuan dasar yang sudah ia miliki sebelumnya.

Kita dapat melihat uraian di atas, bahwa ketika membahas perilaku informasi, Wilson tidak memasukkan persoalan data, karena perhatiannya adalah kepada proses transfer antara sistem dengan pengguna, dan hanya informasi lah yang berada dalam proses tersebut. Istilah pengetahuan (knowledge) juga dihindari karena Wilson rupanya tidak melihat pengetahuan sebagai entitas yang dapat dipindah-pindahkan. Hanya informasi tentang pengetahuan itulah yang dapat direkam dan dipakai oleh orang lain, dan informasi tidak lain adalah wakil (surrogate) dari pengetahuan yang tidak komplit.

Perilaku manusia tak lekang dari semesta yang menghidupinya. Menurut Wilson, kalimat ini berlaku mutlak dalam upaya mempelajari perilaku informasi (information behavior).  Inti dari pendapat Wilson di awal upayanya mengembangkan teori tentang perilaku informasi ini dapat dilihat dalam bentuk gambar berikut yang adaptasi oleh Putu Laxman Pendit dari artikel Wilson, “On user studies and information needs” yang termuat di Journal of Documentation vol. 35 no. 1 tahun 1981.

http://iperpin.files.wordpress.com/2008/08/wilson-semesta.jpg?w=787&h=323

Gambar 1: Perilaku manusia tak lekang dari semesta yang menghidupinya

Dari model tersebut terlihat ada tiga faktor yang dianggap penting untuk menjelaskan fenomena kebiasaan menemukan informasi (information seeking), yaitu konteks kehidupan pencari informasi, sistem informasi yang digunakannya, dan sumberdaya informasi yang mengandung berbagai informasi yang diperlukan. Ketiga aspek ini berada di dalam semesta pengetahuan.

Wilson juga menekankan bahwa sistem dalam model di atas dapat berupa sistem yang sepenuhnya manual, atau yang sepenuhnya berbantuan mesin (komputer), atau sistem yang digunakan sendiri secara mandiri oleh pencari, atau dapat pula berupa sistem yang menyediakan bantuan perantara alias mediator.

Wilson memperjelas konsep pemustaka/pemakai sebagai objek penelitian perilaku informasi perlu selalu diletakkan dalam konteks sosialnya. Pemustaka/pemakai sebagai komunikator yang memakai sumberdaya informasi pribadi maupun organisasinya, dan menggunakan sumberdaya ini dalam berkomunikasi dengan sesama. Dalam hal ini, maka pemakai dapat ditinjau dari aspek psikologi sosial dan komunikasi pada umumnya. Lalu orang ini berupaya menemukan informasi (information-seeker), di sini dia menjadi komunikator tetapi dalam proses yang lebih spesifik berupa pencarian dan penemuan informasi, berkaitan dengan sebuah kegiatan komunikasi yang terpisah dari kegiatan komunikasi umum, melibatkan tidak saja komunikasi interpersonal, melainkan juga pemakaian sistem informasi formal, yang merupakan keseluruhan dari peralatan, produk, atau sistem yang secara khusus diciptakan untuk menyimpan, memelihara, menemukan kembali, atau mengemas-ulang informasi. Termasuk di sini adalah perpustakaan, berbagai institusi jasa informasi, jurnal dan pangkalan-data terpasang, berkas record organisasi, sistem arsip, dan sebagainya. Seringkali, kajian tentang pemakai berkonsentrasi pada satu aspek ini saja, yaitu aspek interaksi antara manusia dan sistem; padahal seseorang juga dapat bertindak sebagai seorang penerima jasa informasi (recipient),  sebab tidak semua sistem informasi bersifat pasif. Sebagian besar sistem informasi secara aktif menawarkan jasa mereka, misalnya dalam bentuk jasa kesiagaan informasi (current awareness). Berbagai upaya promosi informasi melalui media massa juga dianggap oleh Wilson sebagai contoh sifat aktif dari sistem informasi sehingga akhirnya seseorang adalah pengguna dari informasi yang tersedia di dalam sistem informasi. Wilson mengritik kajian perilaku informasi yang mengabaikan aspek penggunaan atau pemanfaatan informasi yang sudah ditemukan atau disediakan oleh sebuah sistem informasi. Wilson meletakkan keseluruhan perilaku informasi dalam konteks sosial dan komunikasi yang lebih luas daripada sekadar interaksi antara manusia dan sistem informasi.

Konsep pemustaka/pemakai yang luas inilah yang kemudian melahirkan model penjabaran perilaku informasi lebih lanjut, yaitu sebagaimana terlihat di gambar berikut:

http://iperpin.files.wordpress.com/2008/08/wilson-pengguna.jpg?w=385&h=310

Gambar 2: model penjabaran perilaku informasi

Di gambar terlihat bahwa perilaku informasi dipengaruhi oleh kebutuhan pribadi yang berkaitan dengan kebutuhan fisiologis, akfektif, maupun kognitif. Pada gilirannya, kebutuhan ini terkait pula dengan peran seseorang dalam pekerjaan atau kegiatan, dan oleh tingkat kompetensi seseorang sebagaimana diharapkan oleh lingkungannya. Wilson merasa peru menegaskan bahwa lingkungan manusia dapat terdiri dari lingkungan kerja, sosio-kultural, politik, ekonomi, selain tentu saja lingkungan fisik.

Sewaktu seseorang terdorong untuk mencari informasi, semua faktor di atas akan menentukan bagaimana sesungguhnnya seseorang berperilaku mencari informasi. Selain itu, ada faktor rintangan yang juga akan menentukan bagaimana akhirnya seseorang bertingkah laku dalam lingkungan sebuah sistem informasi. Secara lebih rinci, Wilson bahkan mengusulkan sebuah model yang cukup komprehensif, seperti terlihat di bawah ini:

http://iperpin.files.wordpress.com/2008/08/wilson-model-umum.jpg?w=729&h=525

Gambar 3: model perilaku informasi yang cukup komprehensif

Di dalam gambar ini, dapat diketahui bahwa Wilson menganggap bahwa perilaku informasi merupakan proses melingkar yang langsung berkaitan dengan pengolahan dan pemanfaatan informasi dalam konteks kehidupan seseorang. Terlihat pula bahwa kebutuhan akan informasi tidak langsung berubah menjadi perilaku mencari informasi, melainkan harus dipicu terlebih dahulu oleh pemahaman seseorang tentang tekanan dan persoalan dalam hidupnya. Kemudian, setelah kebutuhan informasi berubah menjadi aktivitas mencari informasi, ada beberapa hal yang mempengaruhi perilaku tersebut, yaitu:

  1. Kondisi psikologis seseorang. Cukup masuk akal, bahwa seseorang yang sedang risau dan bertampang cemberut akan memperlihatkan perilaku informasi yang berbeda dibandingkan dengan seseorang yang sedang gembira dan berwajah sumringah.
  2. Demografis, dalam arti luas menyangkut kondisi sosial-budaya seseorang sebagai bagian dari masyarakat tempat ia hidup dan berkegiatan. Kita dapat menduga bahwa kelas sosial juga dapat mempengaruhi perilaku informasi seseorang, walau mungkin pengaruh tersebut lebih banyak ditentukan oleh akses seseorang ke media perantara. Perilaku seseorang dari kelompok masyarakat yang tak memiliki akses ke internet pastilah berbeda dari orang yang hidup dalam fasilitas teknologi melimpah.
  3. Peran seseorang di masyarakatnya, khususnya dalam hubungan interpersonal, ikut mempengaruhi perilaku informasi. Misalnya, peran menggurui yang ada di kalangan dosen akan menyebabkan perilaku informasi berbeda dibandingkan perilaku mahasiswa yang lebih banyak berperan sebagai pelajar. Jika kedua orang ini berhadapan dengan pustakawan, peran-peran mereka akan ikut mempengaruhi cara mereka bertanya, bersikap, dan bertindak dalam kegiatan mencari informasi.
  4. Lingkungan, dalam hal ini adalah lingkungan terdekat maupun lingkungan yang lebih luas, sebagaimana terlihat di gambar sebelumnya ketika Wilson berbicara tentang perilaku orang perorangan.
  5. Karakteristik sumber informasi, atau mungkin lebih spesifik: karakter media yang akan digunakan dalam mencari dan menemukan informasi. Berkaitan dengan butir 2 di atas, orang-orang yang terbiasa dengan media elektronik dan datang dari strata sosial atas pastilah menunjukkan perilaku informasi berbeda dibandingkan mereka yang sangat jarang terpapar media elektronik, baik karena keterbatasan ekonomi maupun karena kondisi sosial-budaya. (Wilson, dikutip dari pendit, 2008)

Kelima faktor di atas, menurut Wilson, akan sangat mempengaruhi bagaimana akhirnya seseorang mewujudkan kebutuhan informasi dalam bentuk perilaku informasi. Selain itu, ada faktor lain yang akan ikut menentukan aktivitas pencarian dan penemuan informasi seseorang, yaitu pandangan seseorang tentang risiko dan imbalan yang kelak akan dihadapinya jika ia benar-benar melakukan pencarian informasi. Di tahap ini, seseorang menimbang-nimbang, apakah perilakunya perlu disesuaikan atau diselaraskan dengan kondisi yang ia hadapi. Misalnya, untuk contoh kasar saja, seorang ilmuwan kondang yang merasa akan terlihat “bodoh” di hadapan pustakawan, mungkin akan berperilaku berbeda dibandingkan seorang dosen yang cuek dalam hal citranya di mata pustakawan. Sedangkan ilmuwan mungkin berpikir bahwa bertanya secara langsung kepada pustakawan akan berisiko menurunkan gengsinya, sementara dosen mungkin tak peduli pada risiko itu sebab ia berkonsentasi pada “imbalan” yang akan diperolehnya dari pustakawan.

Pada akhirnya, di dalam model Wilson terlihat bahwa berbagai perilaku informasi (mulai dari yang hanya berupa perhatian pasif, seperti melakukan observasi dan browsing serampangan, sampai pencarian yang berkelanjutan) bukanlah wujud langsung dari kebutuhan informasi seseorang. Terlalu sederhana jika kita menganggap bahwa seseorang yang datang ke perpustakaan mempunyai kebutuhan yang pasti dan mutlak. Ada berlapis-lapis faktor yang meng-antarai kebutuhan dan perilaku.

Dari penjelasan di atas, dapat disimpulakan bahwa perilaku informasi adalah perilaku yang berkaitan dengan sumber dan segala lini informasi atau saluran informasi tersebut, mencakup semua totalitas perilaku manusia dalam mencari dan memenuhi kebutuhan informasinya, baik secara aktif maupun pasif, misalnya komunikasi face to face, menonton televisi, membaca buku, dan lain-lain.

Information behavior (perilaku informasi) adalah sub-disiplin ilmu informasi dan perpustakaan. Sebagai seorang pustakawan, kita harus mengetahui informasi yang dibutuhkan oleh pemustaka/pemakai. Bagaimana kita bisa mengetahui kebutuhan informasi pemustaka/pemakai, apabila tidak ada teori information behavior. Teori ini membuat pustakawan tahu informasi apa yang dibutuhkan oleh pemustaka/pemakai dan membuat pustakawan tahu bagaimana cara mengelola informasi dalam konteks yang bermacam-macam. Hal itu disebabkan karena ruang lingkup information behavior ada pada user needs and uses.

BAHAN PUSTAKA:

Pendit, Putu Laxman. 2008. Perilaku Informasi, Semesta Pengetahuan. (Diakses dari http://iperpin.wordpress.com/2008/08/07/perilaku-informasi-semesta-pengetahuan/ pada tanggal 18 April 2009)

Pendit, Putu Laxman. 2008. Ragam Perilaku Informasi. (Diakses dari http://iperpin.wordpress.com/2008/04/04/18/ pada tanggal 18 April 2009)

Wilson, T. D. 2000. Human Information Behavior. Dalam Special Issue on Information Science Research, Vol. 3 No. 2.

You can leave a response, or trackback from your own site.

5 Responses to “INFORMATION BEHAVIOR”

  1. Purwoko says:

    Beberapa tulisan tt penelitian bidang informasi juga bisa di dapatkan di http://informationr.net

  2. restyjf says:

    ok pak.. makasih infonya..:)

  3. Randy says:

    MAKASIH PA REFERENSINYA 😀

  4. nie says:

    misii…
    kalo dapetin buku tentang perilaku informasi ini dimana ya? soalnya saya kesulitan untuk dapet ref tentang bahasan ini. makasi.

  5. nick says:

    misii…
    kalo dapetin buku tentang perilaku informasi ini dimana ya? soalnya saya kesulitan untuk dapet ref tentang bahasan ini. makasi.

Leave a Reply