PERPUSTAKAAN PERGURUAN TINGGI DI MASA YANG AKAN DATANG

Posted on Thursday, May 7th, 2009 at 3:52 pm

PENDAHULUAN

Indonesia sebagai negara berkembang masih berada di masa transisi ke arah masyarakat informasi. Masyarakat informasi adalah masyarakat yang menjadikan informasi sebagai komoditas utama. Perkembangan teknologi dan media informasi semakin pesat. Keberadaan pusat informasi dengan inovasi baru sangat dibutuhkan oleh masyarakat. Terutama untuk pemenuhan kebutuhan dan tuntutan masyarakat secara tepat, cepat dan akurat. Semakin menjamurnya penyedia informasi dengan layanan yang bervariasi menuntut para penyedia informasi harus memikirkan suatu terobosan baru untuk memberikan kepuasan bagi masyarakatnya dan tetap bisa bersaing dengan lembaga lainnya.

Perpustakaan adalah salah satu tempat dalam mencari informasi yang dibutuhkan. Perpustakaan merupakan sebuah lembaga yang tugasnya melayani kepentingan umum. Fungsi perpustakaan adalah sebagai sarana pemenuhan kebutuhan masyarakat akan informasi, terutama informasi yang bersifat ilmiah. Sumber informasi tersebut biasanya dikatakan sebagai bahan pustaka. Apabila memasuki suatu perpustakaan, yang dilihat pertama adalah jajaran buku dan bahan pustaka lain yang diatur secara rapi di rak buku,rak majalah, maupun rak-rak bahan pustaka lain. Bahan-bahan pustaka tersebut diatur menurut suatu sistem tertentu sehingga memudahkan bagi pengunjung untuk menemukan kembali bahan pustaka yang diperlukan. Sekarang ini, bahan pustaka tidak hanya terbentuk dari kertas, tetapi juga microfilm, foto, disk, dan daun lontar yang sudah sangat jarang ditemukan.

Seiring berjalannya waktu dan zaman globalisasi yang sedang ditapaki sekarang ini, perpustakaan juga harus ikut berbenah diri mengikuti perkembangan teknologi yang ada. Perpustakaan adalah lembaga fungsional dimana setiap bagian di dalam perpustakaan tersebut harus berubah mengikuti perkembangan zaman. Begitu juga dengan perpustakaan perguruan tinggi. Fungsi dari perpustakaan perguruan tinggi adalah untuk menunjang kegiatan belajar-mengajar perguruan tinggi dan sebagai sumber informasi. Agar informasi yang terdapat di perpustakaan tidak mengalami penurunan nilai informasi, maka perpustakaan perguruan tinggi harus dikelola dengan baik oleh pustakawan yang kompeten dibidangnya dan dilengkapi dengan berbagai teknologi yang dapat mendukung perpustakaan tersebut dalam pemenuhan kebutuhan informasi pemakainya.

PERKEMBANGAN PERPUSTAKAAN DARI MASA KE MASA

Perpustakaan di dunia mengalami perkembangan yang sangat pesat sesuai dengan perkembangan zaman. Perkembangan perpustakaan tersebut juga mempengaruhi terhadap bentuk bahan pustaka yang semula hanya terbuat dari kertas, sekarang sudang berbentuk koleksi elektronik. Fase perkembangan perpustakaan dimulai dengan adanya paper library (perpustakaan tradisional), lalu diikuti dengan automated library (perpustakaan semi modern), setelah itu ada electronic library (perpustakaan modern), selanjutnya jenis perpustakaan yang masih banyak dikembangkan sekarang ini digital library dan perpustakaan yang sedang diupayakan sekarang ini adalah virtual library (perpustakaan maya).

Paper library (perpustakaan tradisional) adalah perpustakaan dengan koleksi yang belum diolah dan dikatalog dan semua koleksi adalah berbentuk koleksi buku. Koleksi hanya ditata di rak tanpa menggunakan tata aturan pengelolaan perpustakaan yang baku. Kalau automated library (perpustakaan semi modern) adalah perpustakaan yang telah mengolah dan telah memanfaatkan katalog untuk mencari koleksi tetapi masih manual walaupun koleksinya masih koleksi buku. Biasanya katalog kartu diletakkan di laci katalog yang disusun sesuai judul, pengarang dan subjek.

Electronic library (perpustakaan modern) merupakan perpustakaan yang telah memanfaatkan komputer untuk membantu aktifitasnya. Biasanya otomasi perpustakaan telah dimanfaatkan untuk memberi layanan terbaiknya. Koleksi perpustakaan meliputi buku, jurnal, video, kaset suara dan lain-lain yang disajikan secara fisik. Dan untuk mencari koleksi telah memanfaatkan OPAC (Online Pulic Access Catalogue).

Digital library (perpustakaan digital) adalah perpustakaan modern yang selangkah lebih maju dimana sebagian koleksinya dalam bentuk digital. Komputer telah dimanfaatkan bukan hanya untuk mengakses buku dalam bentuk fisik/kasat mata, tetapi juga buku teks penuh dengan file digital yang disimpan di server-nya.

Bentuk koleksi dari perpustakaan digital adalah:

  1. Book

Koleksi bahan pustaka ini berbentuk buku atau berbahan kertas. Kertas adalah lembaran yang terbuat dari serat selulosa dan atau serat buatan yang telah mengalami pengerjaan penggilingan, ditambah beberapa bahan tambahan yang saling menempel dan saling menjalin, umumnya mempunyai berat lebih ringan dari 165 gr/ m2.

  1. Elektronik (Non Book)

Koleksi bahan pustaka elektronik adalah koleksi bahan pustaka yang terbuat dari bahan non kertas. Bahan pustaka tersebut merupakan imbas atau dampak dari perkembangan teknologi informasi. Koleksi bahan pustaka elektronik antara lain mikrofilm, motion picture film, foto, audio tapes, disk, digital mateial, digitized material dan lain-lain.

Perpustakaan maya (virtual library) adalah perpustakaan tanpa dinding yang semua koleksinya tidak dalam bentuk kertas, mikrofilm, atau semua bentuk yang kasat mata atau fisik, tetapi semua koleksi dapat diakses secara elektronik melalui jaringan komputer tetapi yang dapat mengakses hanya orang yang telah mendaftar sebagai anggota perpustakaan dan pendaftarannya dapat dilakukan secara online. Bentuk koleksinya seperti:

1. Artikel jurnal ilmiah elektronik

Artikel dalam bentuk softcopy dari jurnal ini dapat diupload di Internet. Dengan menaruhnya di situs secara otomatis sebagai ajang promosi yang sangat efektif.

2. Skripsi, Tesis dan Disertasi elektronik

Skripsi, Tesis dan Disertasi merupakan sumber informasi ilmiah yang bisa di-sharing. Keterbukaan untuk meng-upload secara full-text di internet justru menjadi salah satu upaya untuk menghindari plagiarisme. Hal ini disebabkan semakin banyak orang yang tahu. Ketakutan yang berlebihan akan terjadinya plagiarisme,akan membuat plagiarisme menjadi sesuatu aktifitas yang biasa. Karena tidak banyak orang yang tahu sebab akses informasi hanya terbatas pada hardcopy-nya.

3. Laporan hasil penelitian

Laporan hasil penelitian yang telah disetujui oleh lembaga penelitian dan dibiayai oleh negara atau institusi sudah sewajarnya menjadi milih negara dan institutisi. Lebih baik jika hasil penelitiannya bisa dipatenkan sehingga jika terjadi pembajakan mereka dapat dituntut secara hukum. Hasil penelitian ini bisa dikembangkan untuk hasil lain yang lebih maju dan baik.

4. Makalah seminar, workshop dan sebagainya

Banyak sekali seminar, workshop dan sebagainya yang menghasilkan artikel-artikel ilmiah. Artikel ini pantas diupload di Internet untuk dapat dimanfaatkan oleh masyarakat luas. Dengan penyebaran informasi ilmiah seperti ini,akan memperluas kearifan dan cakarawala intelektual masyarakat kampus maupun masyarakat umum secara luas.

5. Buku

Buku disediakan dalam bentuk softcopy secara full-text dan dapat di upload di internet. Sebelumnya perpustakaan bekerjasama terlebih dahulu dengan penerbitan agar penerbit bersedia memberikan softcopy buku tersebut. Karena sudah bekerjasama dengan penerbit, apabila terjadi pembajakan, mereka dapat dituntut secara hukum.

PERPUSTAKAAN PERGURUAN TINGGI DI MASA YANG AKAN DATANG

Untuk perpustakaan perguruan tinggi di masa yang akan datang, penulis tidak menginginkan hal yang muluk-muluk dimana perpustakaan tersebut sudah sepenuhnya menjadi virtual library (perpustakaan maya). Tetapi perpustakaan perguruan tinggi di masa yang akan datang merupakan gabungan dari berbagai bentuk perkembangan perpustakaan yang sudah disebutkan sebelumnya dengan menerapkan bagian-bagian yang bagus, seperti otomasi perpustakaan, tetapi juga memperhatikan kebutuhan pemakai.

Pengembangan dan perubahan perpustakaan perguruan tinggi di masa yang akan datang meliputi:

1. Dukungan Top Manajemen (lembaga induk)

2. SDM Perpustakaan (pustakawan)

3. Gedung perpustakaan berbasis IT

4. Pengelolaan perpustakaan (collecting, processing, disseminating, dan evaluasi informasi)

5. Public relation in library

6. Marketing in library

Perkembangan perpustakaan banyak dipengaruhi oleh visi dan misi yang ada di lembaga induknya. Sehingga apapun yang akan diterapkan dan dikembangkan oleh perpustakaan harus disesuaikan dengan tujuan organisasi atau institusi itu sendiri. Oleh karena itu lembaga induk harus mendukung semua keputusan yang bertujuan untuk kepentingan perpustakaan yang telah, sedang dan akan diambil.

Hal-hal penting dalam sumber daya manusia perpustakaan (pustakawan) adalah:

a. Image

Pustakawan harus mengubah image/citranya ke arah yang lebih positif. Sekarang ini image/citra pustakawan masih negatif di mata masyarakat. Pustakawan dianggap sebagai profesi yang tidak penting, apalagi selama ini pustakawan dianggap tidak stylis dan selalu berkaca mata tebal, serta suka melarang-larang pemakai perpustakaan. Ke depannya pustakawan harus lebih menghargai penampilannya dan memberikan pelayanan dengan ramah kepada pemakai perpustakaan.

b. Skills (keahlian) dan Knowledge (pengetahuan)

Pustakawan harus mempunyai keahlian di bidang perpustakaan, minimal dia merupakan tamatan sarjana ilmu perpustakaan untuk menjadi staf perpustakaan, sedangkan kepala perpustakaan perguruan tinggi adalah tamatan pascasarjana ilmu perpustakaan. Seorang pustakawan juga harus memiliki pengetahuan yang luas dan memiliki kompetensi/kemampuan khusus. Kompetensi pustakawan menurut pertemuan Dewan Direktur Special Libraries Association (SLA) dalam sidang tahunan 1996 adalah kompetensi profesional dan kompetensi personal. Kompetensi personal adalah keterampilan/keahlian, sikap dan nilai yang memungkinkan pustakawan bekerja secara efisien, menjadi komunikator yang baik, selalu mempunyai semangat untuk terus belajar sepanjang karirnya. Kompetensi profesional meliputi pengetahuan yang dimiliki pustakawan khusus dalam bidang sumberdaya informasi, akses informasi, teknologi, manajemen dan riset, serta kemampuan untuk menggunakan bidang pengetahuan sebagai basis dalam memberikan layanan informasi dan perpustakaan.

c. Welfare (kesejahteraan/keselamatan)

Keselamatan kerja dan kesejahteraan pustakawan harus diperhatikan oleh lembaga penaung. Lembaga penaung harus menjamin keselamatan kerja mereka dan menaikkan tunjangan (di luar gaji pokok) mereka agar kebutuhan hidup mereka dapat terpenuhi dan sesuai dengan kerja keras mereka selama ini.

d. Keikutsertaan

Pustakawan harus lebih atraktif dalam melakukan pelayanan terhadap pemakai perpustakaan perguruan tinggi.

Gedung perpustakaan perguruan tinggi di masa yang akan datang berbasis teknologi informasi. Gedung perpustakaan merupakan komponen penting karena dapat mempengaruhi kenyamanan pemakai dalam memanfaatkan fasilitas di perpustakaan perguruan tinggi. Hal-hal yang harus diperhatikan dalam penyediaan gedung perpustakaan adalah:

1. lokasi perpustakaan yang strategis, terletak di tengah-tengah komplek perguruan tinggi agar mudah dijangkau oleh pemakai,

2. luas ruangan perpustakaan perguruan tinggi agar pemakai perpustakaan lebih leluasa dalam mencari bahan pustaka dan memanfaatkan perpustakaan,

3. lay out ruangan/ tata letak peralatan dan perlengkapan harus memperhatikan faktor artistic interior ruangan sehingga dapat memberikan kesan yang nyaman dan menyenangkan, yang meliputi lay out ruangan antara lain penataan kursi, sofa, meja, rak bahan koleksi,

4. ventilasi udara yang cukup,

5. kelembaban udara, untuk koleksi berbentuk fisik yaitu pada suhu kamar sekitar 240C- 290C, sedangkan di ruangan komputer, internet, dan alat elektronik lainnya pada suhu 180C- 220C, dan diruangan lainnya pada suhu 210C-240C,

6. Pencahayaan harus disesuaikan antara ruang baca dengan koleksi fisik,

7. Pewarnaan dinding ruangan harus memperhatikan aspek estetika namun tidak mengganggu pandangan, warna-warna yang digunakan sebaiknya yang tidak menyilaukan mata dan kontras dalam memadukan warnanya sehingga tidak melelahkan mata dalam memandangnya,

8. Ruang perpustakaan dirancang senyaman mungkin,

9. Suasana di perpustakaan harus tenang dan tidak berisik, bisa juga disediakan fasilitas pemutaran instrumen musik atau mengediakan earphone dengan pilihan berbagai macam lagu di ruang baca,

10. Gedung perpustakaan perguruan tinggi dilengkapi dengan hotspot area, hotspot meliputi semua ruangan di gedung perpustakaan perguruan tinggi.

Perpustakaan perguruan tinggi harus menyediakan ruangan-ruangan tersendiri dalam memenuhi aktifitas pelayanan perpustakaan. Ruangan-ruangan tersebut antara lain: lobby dan library cafe; ruang baca koran dan majalah; ruang loker; ruang kepala perpustakaan; ruang tata usaha; ruang rapat; ruang layanan teknis; ruang arsip; ruang pameran; ruang kelas; ruang belajar khusus; ruang diskusi; ruang seminar; ruang baca; ruang komputer dan internet; layanan sirkulasi; layanan penelusuran informasi; koleksi buku; koleksi jurnal dan CD ROM; koleksi rujukan, atlas, dan peta; koleksi skripsi, tesis, disertasi, dan laporan penelitian; dan layanan fotokopi.

Pengelolaan perpustakaan diawali dengan pengumpulan bahan pustaka. Di era internet ini, pengembangan koleksi dan pengadaan selain pembelian bahan pustaka jenis book (cetak) dan sumbangan serta bekerjasama dengan penerbit, dilakukan juga identifikasi situs yang dibutuhkan oleh pemakai dan bagaimana cara mengaksesnya. Selain itu, perpustakaan perguruan tinggi juga membeli koleksi digital material, seperti jurnal elektronik (e-journal) yang dibeli, dan kemudian dilanggan setiap tahunnya. Proses pengembangan koleksi bahan pustaka dipengaruhi oleh kemampuan staf, kebutuhan informasi pengguna, dan kebijakan lembaga penaung (kemampuan finansial). Kegiatan yang dilakukan oleh pustakawan dalam pengembangan koleksi adalah analisis kebutuhan informasi pengguna, penentuan kebijakan penyeleksian, penyeleksian informasi sesuai dengan kebutuhan pengguna dan kebijakan lembaga, pengadaan dan penambahan koleksi/ informasi, penyiangan terhadap koleksi yang sudah tidak dibutuhkan, kemudian melakukan evaluasi seluruh kegiatan pengembangan koleksi sebagai dasar dalam menentukan kebijakan terhadap pengembangan koleksi berikutnya.

Koleksi bahan pustaka di perpustakaan perguruan tinggi nantinya terdiri dari bahan pustaka berbentuk book dan non book. Bahan pustaka berbentuk non book antara lain:

a. mikrofilm

Mikrofilm merupakan salah satu media alih bentuk yang banyak digunakan untuk melestarikan kandungan informasi yang terdapat pada bahan pustaka kertas (buku).Mikrofilm terdiri dari dasar yang transparan atau film dan lapisan emulsi yang melekat di atasnya. Film transparan yang baik untuk bahan pustaka adalah selulosa asetat. Untuk mendapatkan gambar akhir dari mikrofilm, diperlukan suatu proses yang terdiri dari pengembangan (developing), pemantapan (fixation), pencucian (washing), dan pengeringan. Pembuatan mikrofilm dari dokumen-dokumen di perpustakaan untuk disimpan dalam waktu yang tidak terbatas, pada proses pemantapan dan pencucian harus dilakukan dengan sempurna, agar hasil akhir bebas dari sisa-sisa garam perak dan hypo. Adanya sisa-sisa tersebut dalam jumlah tertentu mempengaruhi kestabilan mikrofilm.

b. Motion Picture Film

Motion Picture Film atau yang biasa dikenal dengan film gambar hidup digunakan untuk mencatat informasi. Motion Picture Film dibuat di atas dasar selulosa asetat.

c. Foto

Foto terdiri dari foto hitam putih dan foto berwarna.

d. Audio Tapes

Audio tapes merekam suara. Bentuknya adalah berupa pita. Penyebarannya menggunakan media medan magnet. Bahan audio tapes ini dapat berupa selulosa asetat, mylar, polyvynil klorida, dan lain-lain.

e. Disk

Disk merupakan bahan pustaka elektronik yang berbentuk optikal. Disk terbuat dari wax, selulosa nitrat atau asetat, polyvynil klorida, dan styrene.

f. Digital Material

Digital material merupakan koleksi yang format awalnya sudah dalam bentuk format digital. Bentuk Koleksi Digital Material seperti e-books, e-journals, web catalog, e-references, dokument delivery, digital thesis dan lain-lain. Semuanya dapat diakses secara full-text, bukan hanya abstrak atau resensinya saja. Bahan pustaka tersebut dapat diakses dan di download di manapun dan kapanpun, tetapi yang bisa mengakses dan mendownload hanyalah anggota perpustakaan tersebut dan anggota perpustakaan lainnya yang menyediakan layanan kerjasama antar perpustakaan.

g. Digitized Material

Digitized material adalah koleksi yang format awalnya tidak dalam bentuk digital sehingga diperlukan suatu proses digitalisasi untuk mengubah format tersebut ke dalam format digital. Untuk itu diperlukan suatu tool yang berfungsi sebagai alat untuk mengubah format yang non digital ke format digital. Tetapi proses ini harus melalui izin dari penulis dan penerbit. Karena tidak semua penulis dan penerbit mengizinkan karya-karyanya diubah dalam bentuk digital. Proses pen-download-an seperti pada bahan pustaka digital material.

Prossesing/pengolahan koleksi bahan pustaka meliputi klasifikasi dan katalogisasi. Kegiatan tersebut dilakukan dengan menggunakan teknologi yang sudah terkomputerisasi, seperti menggunakan software perpustakaan yang sudah terstandardisasi oleh seluruh perpustakaan perguruan tinggi di indonesia. Gunanya adalah untuk memudahkan layanan antar perpustakaan. Untuk koleksi bahan pustaka berbentuk fisik, dilakukan shelving (penataan) seperti biasanya. Sedangkan untuk koleksi digital material dan digitized material, penataan langsung dilakukan di website perpustakaan perguruan tinggi tersebut.

Koleksi yang sudah diolah, kemudian disajikan dan disebarluaskan kepada pemakai perpustakaan. Hal yang mempengaruhi penyajian dan penyebarluasan bahan pustaka adalah layanan pemakai. Ada beberapa layanan pemakai yang berkaitan dengan penyajian dan penyebarluasan bahan pustaka, antara lain:

a. Layanan sirkulasi

Layanan sirkulasi di perpustakaan perguruan tinggi di masa yang akan datang menerapkan sistem teknologi informasi dalam kegiatannya. Layanan ini meliputi layanan peminjaman dan pengembalian, statistik pengguna, administrasi keanggotaan, dan lain-lain. Selain itu dapat juga dilakukan silang layan antar perpustakaan yang lebih mudah dilakukan apabila teknologi informasi sudah menjadi bagian dari layanan sirkulasi ini. Teknologi saat ini sudah memungkinkan adanya self-services dalam layanan sirkulasi melalui fasilitas barcoding dan RFID (Radio Frequency Identification). Penerapan teknologi komunikasi yang digunakan seperti penggunaan SMS, Faksimili dan Internet. Layanan ini juga bisa dilakukan secara online melalui situs perpustakaan perguruan tinggi yang bersangkutan.

b. Layanan referensi dan hasil penelitian

Penerapan TI dalam layanan referensi dan hasil-hasil penelitian dapat dilihat dari tersedianya akses untuk menelusuri sumber-sumber referensi elektronik/digital dan bahan pustaka lainnya melalui kamus elektronik, direktori elektronik, peta elektronik, hasil penelitian dalam bentuk digital, dan lain-lain. Melalui layanan ini, Perpustakaan juga memberikan bimbingan dan pelatihan strategi penelusuran informasi berkualitas melalui internet dan cara mengevaluasinya.

c. Layanan OPAC

Layanan ini memberikan pelayanan terhadap information retrieval syatem (temu balik informasi). Gunanya adalah untuk mempermudah pengguna dalam menelusur informasi dan bahan pustaka.

d. Layanan CD-ROM

Untuk mengakses koleksi CD-ROM ini disediakan komputer multimedia yang terhubung dalam Local Area Network (LAN). Akses layanan ini bersifat gratis untuk semua anggota perpustakaan. Pada layanan ini disediakan 7 unit komputer multimedia.

e. Layanan Internet for Academic Purposes and hotspot area

Perpustakaan perguruan tinggi menyediakan akses internet untuk kepentingan penelusuran berbagai informasi ilmiah. Layanan ini juga menyediakan koleksi alamat situs-situs yang sangat penting untuk kepentingan akademik (academic purposes). Akses layanan ini bersifat gratis untuk semua anggota perpustakaan.

f. Layanan pendidikan pemakai

Layanan ini wajib diberikan kepada semua civitas akademika agar mereka yang belum, akan dan sudah pernah ke perpustakaan dapat mengetahui seluk-beluk perpustakaan perguruan tinggi tersebut dan dapat memanfaatkan perpustakaan tersebut untuk memenuhi kebutuhan informasi pemakai. Bagi mahasiswa baru, masa OSPEK yang merupakan pengenalan kampus, panitia harus memberikan porsi khusus terhadap perpustakaan perguruan tinggi untuk melakukan pendidikan pemakai. Pendidikan pemakai juga sangat penting bagi mahasiswa tingkat akhir yang sedang melakukan penelitian.

Setelah koleksi bahan pustaka disajikan dan disebarluaskan, maka terjadilah evaluasi informasi yang meliputi dokumentasi, preservasi, dan weeding. Pendokumentasian bahan pustaka adalah usaha pengumpulan dan penyimpanan koleksi yang dilakukan apabila bahan pustaka masih dibutuhkan setelah dilakukan evaluasi terhadap koleksi tersebut.

Preservasi bisa diartikan sebagai pemeliharaan bahan pustaka. Seperti yang telah diketahui, bahan pustaka tidak selamanya akan bisa bertahan, baik itu dari kondisi cuaca, bencana alam, serangga atau binatang pengganggu lainnya, ataupun dari faktor usia bahan pustaka tersebut. Untuk itulah, kegiatan preservasi dirasakan perlu adanya. Kalau biasanya preservasi hanya dilakukan untuk membersihkan dan memperbaiki kertas, nanti yang akan dilakukan adalah preservasi di bidang transformasi digital, bidang reprografi, dan preservasi di bidang koleksi digital and digitized material. Preservasi di bidang transformasi digital menangani masalah alih media sebuah bahan pustaka seperti naskah-naskah kuno, peta, buku-buku kuno, naskah-naskah lontar, dll ke dalam bentuk Compact Disk (CD) dengan format Acrobat Reader (pdf). Dalam memudahkan proses transfer alih media, bidang transformasi digital ini didukung oleh alat scanner yang memiliki tipe scanner A0, A4, A2, dan A3. Selain itu bidang transformasi digital juga mengembangkan publish internet agar kelak pemakai dapat mengakses koleksi digital secara online dimana pun dan kapan pun.

Langkah-langkah yang harus dilakukan oleh pustakawan dalam melakukan transformasi digital adalah:

1. Penelusuran dan pengumpulan bahan pustaka yang sudah rusak, tua, rapuh, dan kritis kondisinya.

2. Penelitian kondisi fisik bahan pustaka.

3. Proses scanning bahan pustaka ke dalam mesin scanner yang disesuaikan dengan ukuran bahan pustaka.

4. Proses editing menggunakan Adobe Photoshop.

5. Proses converting ke dalam format Adobe Reader.

6. Pengategorian bahan pustaka menurut jenisnya.

7. a. Proses penyimpanan bahan pustaka ke dalam website, agar dapat diakses secara online.

b.Proses burning ke dalam format CD, CD ROM, DVD.

8. Proses packaging.

Bidang reprografi meliputi sub bidang reproduksi dan sub bidang mikrofilm. Sub Bidang Mikrofilm mempunyai tugas melakukan alih media bahan pustaka langka ke dalam bentuk mikro beserta pemeliharaan, perawatan, dan penyimpanan master film negatif bentuk mikronya. Mikrofilm yang telah selesai di packaging masternya disimpan di dalam sebuah ruangan khusus dengan kelembaban ruangan udaranya yang diatur sekitar 200C. Sedangkan copy master-nya dapat diakses oleh pemakai dengan bantuan alat bacanya (reader). Sub Bidang Reproduksi khusus menangani pelestarian gambar/foto yang ada dalam koleksi bahan pustaka.

Langkah-langkah proses kerja pelestarian gambar diantaranya adalah:

  1. Persiapan (penelusuran, pengumpulan, dan pencatatan bahan yang mengalami kerusakan)
  2. Proses Pemotretan menggunakan kamera digital SLR, seperti Mamiya 67.
  3. Proses Pencucian (untuk manual)
  4. Proses Pencetakan
  5. Administrasi Akhir (pembuatan statistik dan laporan)
  6. Penyimpanan master dan Pemeliharaan Alat

Proses Reproduksi di atas pada umumnya memang menggunakan teknologi manual. Sedangkan proses reproduksi digitalnya adalah pada proses pemotretan menggunakan kamera digital yang langsung di convert ke database komputer khusus gambar.

Preservasi di bidang koleksi digital and digitized material dilakukan dengan menyimpan back-up koleksi bahan pustaka terlebih dahulu, agar apabila terjadi bencana atau komputer terserang virus, koleksi tetap aman. Staf ahli di bidang teknologi informasi yang dimiliki oleh perpustakaan perguruan tinggi bertugas menjaga dan membentuk sistem keamanan dalam mengakses informasi dari internet. Semua inforrmasi yang masuk dan diakses oleh pemakai perpustakaan, diseleksi dulu secara online oleh komputer server. Anti virus juga harus di update secara terus menerus untuk menghindari virus internet yang menyerang komputer.

Kemudian perpustakaan perguruan tinggi juga harus melakukan penyiangan terhadap bahan pustaka. Pertama-tama yang harus dilakukan adalah melakukan seleksi terhadap bahan pustaka, apakah bahan pustaka tersebut masih layak ada di perpustakaan perguruan tinggi itu atau tidak. Yang menentukan bahwa bahan pustaka tersebut sudah tidak layak diguknakan lagi adalah isi bahan pustaka sudah kadaluarsa, bahan pustaka tidak sesuai lagi dengan perkembangan zaman, dan lain sebagainya.

Publik relation in library berguna untuk mengenalkan jasa atau layanan yang diberikan oleh perpustakaan. Hubungan masyarakat/ humas (PR) harus melakukaan segala upaya pengenalan yang baik dan tepat. Gunanya agar civitas akademika di perguruan tinggi tersebut mengetahui dengan jelas apa yang dimiliki, apa yang telah dan sedang dikerjakan perpustakaan, sekaligus dapat memperbaiki anggapan keliru yang umumnya ada dalam civitas akademika bahwa perpustakaan tidak lebih dari sebuah tempat dimana terdapat banyak buku dan bahan pustaka lainnya. Humas berperan penting dalam mengatasi permasalahan di atas.

Fungsi dan tujuan mendasar humas perpustakaan dalam membangun image/citra antara lain adalah untuk mengenalkan perpustakaan agar civitas akademika mengetahui keberadaannya, agar produknya dapat digunakan oleh masyarakat dan agar lembaga mempunyai image/citra yang baik dengan masyarakat. Hal yang dapat dilakukan oleh humas perpustakaan perguruan tinggi untuk membangun image adalah dengan melakukan pemasaran dan promosi pelayanan informasi. Untuk melakukannya, humas dibagi ke dalam dua jenis, yaitu humas eksternal dan humas internal.

Humas eksternal adalah segenap kegiatan humas yang diarahkan pada khalayak di luar lembaga, bukannya kalangan lembaga yang bersangkutan. Humas eksternal mempunyai keterkaitan dengan media massa, tetapi membuat siaran pers berita baik di perpustakaan perguruan tinggi tidak mudah. Salah-salah media massa tanpa sengaja memuat pesan yang image-nya adalah pesan sponsor, mereka bisa dituduh berkolusi dengan humas. Ada beberapa kiat yang dapat dilakukan oleh perpustakaan dalam menyiasati media massa:

Menempatkan staf humas profesional yang memiliki kemampuan menulis, akan lebih baik lagi kalau dia adalah mantan wartawan

Humas harus dekat dengan wartawan dan membina komunikasi interpersonal dengan wartawan dimanapun dan kapanpun

Humas harus mau bekerja keras, seperti menyusun siaran pers.

Humas internal berhubungan dengan komunikasi staf perpustakaan. Humas internal bertanggung jawab membentuk image/ citra di dalam internal perpustakaan agar semua staf dapat bekerja sama dengan baik dalam mewujutkan tercapainya perpustakaan perguruan tinggi yang ideal.

Selain humas, bidang pemasaran (marketing in library) juga merupakan hal yang penting agar perpustakaan perguruan tinggi dapat diterima dan dimanfaatkan oleh civitas akademika. Kegiatan promosi yang dilakukan antara lain:

Penyebaran leaflet

Pemasangan iklan di radio dan koran/majalah

Pemasangan billboard

Pemasangan spanduk

Website perpustakaan

Mengadakan forum diskusi dengan pemakai

Melakukan layanan pendidikan pemakai

PENUTUP

Perpustakaan perguruan tinggi sebagai penunjang kegiatan belajar-mengajar perguruan tinggi dan sebagai sumber informasi pokok di perguruan tinggi harus dikelola dengan baik oleh pustakawan yang kompeten dibidangnya. Perpustakaan juga harus dilengkapi dengan berbagai teknologi yang dapat mendukung perpustakaan tersebut dalam pemenuhan kebutuhan informasi pemakainya agar informasi yang terdapat di perpustakaan tidak mengalami penurunan nilai informasi dan terkelola dengan baik.

Fase perkembangan perpustakaan dimulai dengan adanya paper library (perpustakaan tradisional), lalu diikuti dengan automated library (perpustakaan semi modern), setelah itu ada electronic library (perpustakaan modern), selanjutnya jenis perpustakaan yang masih banyak dikembangkan sekarang ini digital library dan perpustakaan yang sedang diupayakan sekarang ini adalah virtual library (perpustakaan maya).

Untuk perpustakaan perguruan tinggi di masa yang akan datang, penulis tidak menginginkan hal yang muluk-muluk dimana perpustakaan tersebut sudah sepenuhnya menjadi virtual library (perpustakaan maya). Tetapi perpustakaan perguruan tinggi di masa yang akan datang merupakan gabungan dari berbagai bentuk perkembangan perpustakaan yang sudah disebutkan sebelumnya dengan menerapkan bagian-bagian yang bagus, seperti otomasi perpustakaan, tetapi juga memperhatikan kebutuhan pemakai dan meningkatkan penggunaan teknologi informasi dalam pelayanannya.

Perkembangan dan perubahan perpustakaan perguruan tinggi di masa yang akan datang meliputi:

  1. Dukungan Top Manajemen (lembaga induk)
  2. SDM Perpustakaan (pustakawan)
  3. Gedung perpustakaan berbasis IT
  4. Pengelolaan perpustakaan (collecting, processing, disseminating, dan evaluasi informasi)
  5. Public relation in library
  6. Marketing in library

DAFTAR PUSTAKA

___________. 1994. Buku Pedoman Penyelenggaraan Perpustakaan Perguruan Tinggi, Jakarta : Departemen Pendidikan Nasional.

___________. ____. Jasa Layanan Informasi dan Perpustakaan (pengantar), Diktat/ Bahan Ajar Mata Kuliah Jasa Layanan Informasi dan Perpustakaan. Bandung: Universitas Padjadjaran.

___________. ____. Strategi Public Relation dalam Peningkatan Citra Perpustakaan dan Lembaga Informasi, Diktat/ Bahan Ajara Mata Kuliah PR in Library. Bandung: Universitas Padjadjaran.

Achmad. 2006. Virtual Library System: Upaya Membangun Sumber Informasi Ilmiah Bersama. Makalah disampaikan pada : Workshop for Result and Implementation of Local Knowledge Wealth Distribution di Perpustakaan Universitas Brawijaya di Malang tanggal 6 Nopember 2006. (Diakses dari http://www.lurik.its.ac.id/latihan/VIRTUAL%20LIBRARY-unibraw2006.pdf tanggal 8 April 2009)

Basuki, Sulistyo. 1993. Pengantar Ilmu Perpustakaan. Jakarta; Gramedia Pustaka Utama.

Kusnandar. ____. Otomasi Perpustakaan dan Open Source Software, Diktat/ Bahan Ajar Mata Kuliah Otomasi Perpustakaan. Bandung: Universitas Padjadjaran.

Sinaga, Dian. 1997. Ilmu Perpustakaan dan Profesi Pustakawan, Bandung :Bina Cipta.

Siregar, A. Ridwan. 2007. Perpustakaan Sebagai Pusat Sumber Informasi Penelitian. (Diakses dari http://library.usu.ac.id/download/lib/InfoPen.htmltanggal 9 April 2009)

Widyanarko, Oky. 2008. “POSITIONING” Dalam Pemasaran Layanan Perpustakaan. (Diakses dari http://www.journalhome.com/oky/49372/positioning-dalam-pemasaran-layanan-perpustakaan.html tanggal 8 April 2009)

Yusuf, Pawit M..1991. Mengenal Dunia Perpustakaan dan Informasi, Bandung : Bina Cipta.

You can skip to the end and leave a response. Pinging is currently not allowed.

4 Responses to “PERPUSTAKAAN PERGURUAN TINGGI DI MASA YANG AKAN DATANG”

  1. sheyla says:

    suka

  2. ya blognya bagus, banyak lho temenku di situ. ada mbak Nina, Mbak Yuli, Pak Sarwono. kok ndak ada fotonya

  3. restyjf says:

    wah.. makasih pak solihin.. padahal belum apa-apa nih.. masih jelek blognya…:)
    fotonya.. mmm.. ntar diupload.. 🙂

  4. Link2SD says:

    virtual library kayanya keren juga 😀

Leave a Reply