DIBENCI TETAPI TIDAK BISA DIHINDARI: ITULAH RATING TELEVISI

Posted on Monday, May 4th, 2009 at 3:34 pm

Rating televisi di industri pertelevisian Indonesia sekarang ini masih menjadi polemik yang menakutkan bagi para pekerja pertelevisian. Setiap hari Rabu mereka mendapatkan rapor hasil kerja mereka dalam seminggu. Kalau rapor tersebut rendah, mereka disalahkan oleh atasan karena dianggap tidak bisa membuat program yang bagus. Rapor tersebut dikeluarkan oleh AGB Nielsen Media Research, suatu perusahaan yang bergerak dibidang riset. Di rapor tersebut diperlihatkan kuantitas pemirsa yang menonton acara tersebut. Ketakutan tersebut terutama dialami oleh para jurnalis televisi, mereka merasa tertekan jika berita yang mereka hasilkan bukan berita besar,mereka akan mendapat tekanan dari atasan karena rating program berita tersebut lebih rendah dari pada acara hiburan. Padahal mutu dan kualitas acara hiburan tersebut belum tentu baik dan terkesan membodohi pemirsa televisi.

Rating televisi memenjarakan idealisme para pekerja pertelevisian. Mereka harus mengikuti tren yang berlaku di masyarakat. Mereka harus menuruti keinginan para pemirsa yang menjadi panel AGB Nielsen Media Research. Kebanyakan panel tersebut tersebar di masyarakat mulai dari usia 5 tahun. Tidak mungkin dapat disejajarkan segmentasinya dengan para pekerja pertelevisian yang rata-rata merupakan lulusan strata satu.

Di artikel sebelumnya telah disinggung mengenai rating yang telah menjadi mata uang baru di dunia pertelevisian Indonesia. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa rating merupakan hal terpenting di dunia pertelevisian karena dapat mengucurkan uang, dan bisnis pertelevisian merupakan industri yang sangat mahal dan membutuhkan banyak uang. Hal tersebut menyebabkan rating yang sangat dibenci oleh para pekerja pertelevisian tetapi akan selalu ada dan tidak bisa dihindari.

Bahkan buku “Matinya Rating Televisi” karangan Erica L. Panjaitan dan TM. Dhani Iqbal di tahun 2006, sampai sekarang belum berhasil mematikan rating televisi. Rating masih menjadi suatu penilaian terhadap program televisi bagi para pengelola pertelevisian dan pengiklan.

Walaupun rating televisi tidak bisa dihilangkan dan masih menjadi hal yang dianggap penting oleh pengelola pertelevisian, kita masih bisa menemukan secercah harapan terhadap para pekerja pertelevisian yang kreatif . Sehingga masih bisa mempertahankan idealismenya. Tidak harus menjual ke-pornoaksi-an, tetapi mengemas suatu acara yang mengandung unsur pendidikan, informatif, dan ilmu pengetahuan menjadi ringan dan digemari oleh banyak orang. Sehingga dapat menghasilkan rating yang tinggi. Acara tersebut seperti talkshow-talkshow keluarga dan acara anak seperti, Si Bolang (TRANS 7).

Daftar Pustaka:

___________. 2009. Rating Televisi: Suatu Pembodohan Masyarakat. Di download melalui situs http://info.mikro.web.id/rating-televisi-suatu-pembodohan-masyarakat.html pada jam 14.15 WIB tanggal 12 Maret 2009.

Kurniawan, Randi. 2008. Tantangan Industri Pertelevisian. Harian Seputar Indonesia, 18 Juni 2008.

You can skip to the end and leave a response. Pinging is currently not allowed.

Leave a Reply