RATING TELEVISI: MATA UANG BARU DUNIA PERTELEVISIAN INDONESIA

Posted on Thursday, April 2nd, 2009 at 3:51 pm

Walaupun rating televisi bukan satu-satunya patokan yang dijadikan oleh pengelola stasiun televisi dalam mengambil keputusan, tetapi realitasnya tetap saja rating dan share menjadi sesuatu yang dianggap sangat penting oleh semua pihak yang berhubungan dengan siaran televisi. Hal tersebut menyebabkan rating dan share sebagai mata uang baru di dunia pertelevisian indonesia. Sangat tidak memungkinkan jika para pengelola stasiun TV mengacuhkan dan tidak peduli terhadap keberadaan rating televisi, sedangkan pengiklan mau memasarkan produknya hanya di program yang ratingnya tinggi.

Kalau dicermati, mata uang baru ini sangat berkuasa dan mempersempit serta membatasi ruang gerak pemirsa dan pengelola televisi di indonesia. Rating TV seolah-olah menjadi kiblat bagi pengiklan dan pengelola stasiun televisi dalam membeli program dan memasang barang belanjaan mereka di jam-jam tertentu. Muncul kecenderungan, jika satu program ratingnya tinggi, maka stasiun TV lain ikut mengekor membuat program sejenis. Padahal belum tentu program tiruan tersebut rating-nya juga tinggi. Seharusnya stasiun TV lain berusaha lebih kreatif lagi menciptakan program baru.

Jenis program TV yang seragam di antara stasiun televisi menyebabkan pemirsa televisi cepat bosan. Dampak jangka panjangnya, pengelola stasiun TV jadi susah menebak apa yang akan menjadi tren di bulan berikutnya, apalagi tahun depan. Tetapi apa boleh buat, pemasang iklan juga lebih tertarik dengan limpahan “mata uang baru” ini.

Sangat disayangkan karena tingginya pemasang iklan tidak selalu diimbangi dengan bagusnya kualitas program TV. Misalnya, ada sinetron yang tokoh perempuannya adalah orang miskin atau seorang pembantu yang teraniaya, yang menangis terus di setiap episodenya dan selalu mendapatkan kekerasan dari tokoh lainnya. Dalam perjalanannya, sinetron tersebut rating-nya tinggi bahkan ditayangkan sampai ratusan episode dengan penayangan striping (setiap hari), sehingga banyak pengiklan yang tertarik mengiklankan produknya. Stasiun TV lain pun melihat ada kesempatan emas dalam menayangkan sinetron seperti itu, sehingga sekarang hampir setiap stasiun TV menayangkan sinetron yang sejenis. Atau contoh lainnya adalah reality show cinta-cintaan yang setahun belakangan ini banyak ditayangkan oleh berbagai stasiun TV juga bermula dari satu stasiun TV, dimana program tersebut sukses lalu diikuti oleh stasiun TV lain lain. Padahal reality show tersebut hanyalah rekayasa belaka, bahkan sangat terlihat bahwa semuanya hanya berdasarkan skrip yang telah dibuat sebelumnya. Apalagi dibintangi oleh para “artis” yang tidak pernah beraktik sehingga mereka terlihat sangat berlebihan, atau istilah gaulnya “lebay”. Akan tetapi karena reality show tersebut ratingnya tinggi, maka ke-lebay-an tersebut pun diikuti oleh stasiun TV lain.

Apakah selamanya industri pertelevisian Indonesia akan diperbudak oleh rating televisi yang dijadikan sebagai mata uang baru? Hanya waktu yang dapat menjawabnya.

Daftar Pustaka:

____________. 2008. Naik-naik Ke Puncak Rating. Tabloid Bintang Indonesia, ed. 913. Jakarta.

____________. 2008. Memperkenalkan Mata Uang Baru, Rating!. Tabloid Bintang Indonesia, ed. 918. Jakarta.

Panjaitan, Erica L. dan TM. Dhani Iqbal. 2006. Matinya Rating Televisi : Ilusi Sebuah Netralitas. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia.

You can skip to the end and leave a response. Pinging is currently not allowed.

One Response to “RATING TELEVISI: MATA UANG BARU DUNIA PERTELEVISIAN INDONESIA”

  1. kandissance says:

    I’m new to this blog. Apologize for asking this though, but to OP…
    Do you know if this can be true;
    http://www.bluestickers.info/ringtones.php ?
    it came off http://ringtonecarrier.com
    Thanks 🙂

Leave a Reply