MENGENAL LEBIH JAUH RATING TELEVISI

Posted on Wednesday, March 18th, 2009 at 10:48 am

Pemirsa televisi (TV) sering mempertanyakan jalannya suatu program televisi. Misalnya, mengapa program berita di salah satu stasiun TV dipindahkan jam tayangnya? Mengapa penayangan program masak-memasak yang dipandu oleh salah seorang chef yang mulai memudar namanya dihentikan? Mengapa durasi dari program musik tersebut ditambah? Mengapa durasi program kuis itu dikurangi? Mengapa sinetron itu di perpanjang dan mengalami penambahan serta penggantian tokoh? Begitu banyak pertanyaan yang terngiang di benak kita, tetapi kita yang masih awam terhadap seluk beluk dunia pertelevisian tidak mengetahui secara persis apa sebenarnya yang terjadi dibalik semua itu. Lain halnya apabila pertanyaan tersebut diajukan kepada para pengelola stasiun televisi. Mereka pasti akan menjawab dengan kompak bahwa semua itu terjad karena rating televisi.

Rating Program (%) = Pemirsa Program TV X 100%

———————–

Populasi Televisi

Rating. Kata yang sering kita dengar. Tetapi kurang kita ketahui maksudnya. Sebenarnya apa sih rating itu? Secara umum, rating adalah evaluasi atau penilaian atas sesuatu. Rating merupakan data kepemirsaan televisi. Data merupakan hasil pengukuran secara kuantitatif. Jadi rating bisa dikatakan sebagai rata-rata pemirsa pada suatu program tertentu yang dinyatakan sebagai persentase dari kelompok sampel atau potensi total. Pengertian yang lebih mudah, rating adalah jumlah orang yang menonton suatu program televisi terhadap populasi televisi yang di persentasekan. Apabila dirumuskan menjadi:

Data kepemirsaan TV itu dihasilkan berdasarkan survei kepemirsaan TV (TV Audience Measurement/ TAM). Di Indonesia survei kepemirsaan televisi kini diselenggarakan oleh AGB Nielsen Media Research (AGB NMR). Sebenarnya ada perusahaan lain yang bergerak dibidang yang sama, tetapi para stakeholders dari data kepemirsaan TV itu, seperti pengelola stasiun televisi, pengiklan, media, dan lainnya yang berlangganan rating tersebut, lebih mempercayakan terhadap hasil data kuantitatif yang dihasilkan oleh AGB NMR. AGB NMR merupakan perusahaan survei kepemirsaan TV terbesar di dunia. Dalam tugasnya, AGB NMR mengacu pada pandangan global โ€Global Guidelines for TV Audience Measurement (GGTAM)โ€ yang dibuat oleh Audience Research Method (ARM) Group.

Pengoperasian dan prosedur standar survei kepemirsaan TV yang mengacu pada GGTAM harus melalui tujuh proses pokok. Ke tujuh proses tersebut adalah:

1. TV Establishment Survey,

2. Pemilihan Panel,

3. Metering Equipment (TVM-5): pemasangan di rumah tangga panel,

4. Pengumpulan Data (On-line Polling),

5. The Production (Pollux System),

6. TV Monitoring,

7. Pengiriman Data (via Arianna).

Gambar 1: Proses Pokok Survei Kepemirsaan Televisi

Pra-survei dilakukan untuk menjaring calon panel. Survei awal ini disebut TV Establishment Survey. TV Establishment Survey dilakukan di kota-kota yang menjadi cakupan survei kepemirsaan TV AGB NMR. Di Indonesia dilakukan di 10 kota besar. Yaitu, Jakarta, Surabaya, Medan, Semarang, Bandung, Makassar, Yogyakarta, Palembang, dan Banjarmasin. Tahap ini dilakukan untuk menentukan besaran populasi individu yang mempunyai televisi di rumah tangganya sebagai jumlah pemirsa potensial suatu kota. Selain itu, TV Establishment Survey juga memberikan informasi karakteristik demografi individu di rumah tangga tersebut (seperti umur, jenis kelamin, pendidikan, dsb), serta karakteristik rumah tangga (seperti informasi pengeluaran rumah tangga, kepemilikan barang, kondisi rumah, dsb; yang akan menentukan kategori kelas sosial ekonomi rumah tangga tersebut).

Cara yang dilakukan adalah AGB NMR yang telah mempunyai referensi setiap Rukun Tetangga (RT). RT tersebut dipilih secara random untuk di survei. Misalnya, dipilih 500 RT untuk disurvei, kemudian AGB NMR mengirim petugas lapangannya untuk memetakan 500 RT tersebut. Per RT dipilih 50 rumah. Kalau misalnya di suatu RT kurang dari 50 rumah, maka perhitungan dilanjutkan ke RT berikutnya. Tetapi, apabila RT tersebut memiliki lebih dari 50 rumah, maka survei dihentikan di rumah ke-50. 50 rumah dalam satu RT itu disebut Primary Sampling Unit (PSU). Selanjutnya, pada masing-masing PSU didata demografinya. Hasil pendataan tersebut dikompilasi, dan dipilih secara acak rumah tangga untuk dijadikan panel dengan mempertimbangkan proporsi umur, jenis kelamin, serta kelas sosial ekonomi dalam sebuah populasi televisi (People Using Television/ PUT). Lalu diperolehlah rumah tangga yang cocok dijadikan panel (responden).

Setelah calon panel terpilih, petugas lapangan AGB NMR kemudian mengajukan permohonan untuk menjadikan sebuah rumah tangga sebagai panel. Apabila rumah tangga tersebut menyetujui, maka petugas AGB NMR akan memasang peoplemeter (metering equipment) TVM-5. Peoplemeter TVM-5 yang dipasang di setiap TV dilengkapi dengan handset remote control, base unit, display unit, dan transmission unit. Handset remote control mirip dengan remote control biasa, bedanya di handset ini tertera angka yang disesuaikan dengan anggota keluarga. Misalnya, angka 1 = ayah, angka 2 = ibu, angka 3 = anak pertama, angka 4 = anak kedua. Khusus untuk pembantu ada tombol tersendiri, supaya mereka tidak memencet tombol anggota rumah tangga. Tetapi data kepemirsaan pembantu tidak akan diproses karena mereka bukan anggota tetap rumah tangga tersebut. Semua anggota rumah tangga harus menekan tombol, jika mereka akan menonton TV, begitu juga kalau mereka sudah selesai menonton TV. Di Indonesia, sebuah keluarga hanya bisa menjadi panel selama 2 tahun saja. Walaupun terkadang dalam prakteknya ada juga yang sudah lebih dari 2 tahun

.

Gambar 2: Perangkat peoplemeter TVM-5

Data yang terekam oleh peoplemeter TVM-5 ini kemudian diambil. Pengambilan data di Indonesia dilakukan melalui dua sistem, yaitu on-line dan off-line. Pada system on-line, data diambil setiap hari antara jam 2 pagi sampai jam 6 pagi melalui sistem transmisi data dengan menggunakan jaringan telepon seluler (GSM) yang diset secara otomatis dan dihubungkan dengan system pengolahan data AGB NMR di Jakarta. Sedangkan untuk system off-line, data direkam ke dalam sebuah modul, dan dilakukan pengambilan setiap seminggu sekali oleh petugas lapangan AGB NMR. Modul ini kemudian dihubungkan dengan pembaca modul di kantor AGB NMR. Proses ini dilakukan setiap hari minggu.

Data yang telah dikumpulkan, kemudian diproses dan diproduksi oleh system Pollux yang berada di server AGB NMR di Jakarta dan juga terkoneksi ke kantor pusat di Switzerland dengan back-up support di Kuala Lumpur. Pollux adalah sistem produksi dan penerimaan data kepemirsaan televisi yang lengkap dan terintegrasi yang mengkombinasikan standar internasional dengan transparansi, dalam arti pelaporan yang luas dan fleksibel pada semua fase produksi datanya. Kemudian data kepemirsaan yang telah diproduksi oleh Pollux menjadi sebuah database yang berisi konsumsi televisi menit per menit yang mewakili populasi. Database ini kemudian digabung dengan data monitoring program dan iklan televisi yang diproduksi oleh sistem monitoring TV Events untuk database di dalam perangkat lunak analisis TV Arianna.

Gambar 3: Database panel di dalam sistem Pollux

Arianna merupakan software khusus yang inovatif, fleksibel, dan modular sesuai dengan kebutuhan masing-masing stakeholders. Software Arianna harus dimiliki oleh setiap pelanggan data kepemirsaan TV AGB NMR untuk dapat membaca data kepemirsaan TV tersebut. Untuk melihat data kepemirsaan televisi yang diambil melalui system on-line, dapat di-download setiap jam 10 pagi setiap harinya. Sedangkan untuk system off-line, dapat di-download setiap hari rabu setiap minggunya.

Gambar 4: Tampilan Perangkat Lunak Ariana

Software Arianna menampilkan data kepemirsaan TV dalam beberapa bentuk modul. Modul Daily Grid, memetakan program, penjadwalan program, atau kompetisis antar stasiun TV yang dilengkapi dengan data rating dan share pada masing-masing program dan paruh waktu. Modul Telegrid, menampilkan jadwal siaran dari stasiun TV tertentu pada periode waktu tertentu. Modul loyalty, merupakan analisis perilaku pemirsa yang memperlihatkan kesetiaannya terhadap program dan stasiun TV tertentu berdasarkan durasi menontonnya. Modul Foresting, Planning, dan Optimizing (FPO), modul ini digunakan untuk pengiklan.

Jadi data kepemirsaan TV yang mengukur persentase pemirsa televisi mempunyai kekuatan yang sangat besar. Jika pemirsa suatu program banyak, maka rating TV akan naik, pengiklan yang akan mengiklankan produknya juga akan tertarik memasang iklan di program tersebut. Sehingga mempengaruhi pendapatan finansial stasiun TV tersebut. Oleh karena itu, data kepemirsaan TV atau rating TV berpengaruh terhadap penayangan suatu program TV. Bisa diistilahkan bahwa rating TV adalah โ€Tuhanโ€ bagi para pengelola stasiun TV.

Daftar pustaka:

_____________. 2007. Memahami Rating Acara Televisi. Tabloid Bintang Indonesia, ed. 864. Jakarta.

Fakhlina, Resty Jayanti. 2008. Kegiatan Pengelolaan Data Kepemirsaan Televisi untuk Pemilihan Tayangan Program Televisi: studi deskriptif mengenai kegiatan pengelolaan data kepemirsaan televisi di departemen PR & D PT. RCTI. Skripsi. Jatinangor.

_____________. 2008. AGB Nielsen Media Research. Di download melalui situs http://www.agbnielsen.net/.

You can skip to the end and leave a response. Pinging is currently not allowed.

5 Responses to “MENGENAL LEBIH JAUH RATING TELEVISI”

  1. GlenStef says:

    Hello,
    Ugh, I liked! So clear and positively.

    Thank you
    GlenStef

  2. Manda says:

    Wah bagus mba, mba boleh diskusi lebih jauh gak, saya juga mw riset tt rating tv dengan metode dan software lain

  3. restyjf says:

    GlenStef: thanks..

    Manda: thanks ya..
    boleh aja…
    btw, rating TV yg dikeluarin AGB NMR itu softwarenya ya arianna itu doank.
    kalo pake software lain saya blm pernah denger..
    kebetulan kemaren saya nulis skripsi ttg pengelolaan data kepemirsaan televisi untuk pemilihan tayangan program tv oleh dept. program research n devlopment PT. RCTI.

  4. Casino 1238681770…

    Casino 1238681770…

  5. Dirnov says:

    Hi,
    Everything dynamic and very positively! ๐Ÿ™‚

    Thanks
    Dirnov

Leave a Reply